Minggu, 15 Februari 2026

SAR GUNUNG SLAMET 2001 (7 Mahasiswa UGM)

 

RINGKAS :

Pada 4 Februari 2001, tujuh mahasiswa UGM dari Mapagama berangkat mendaki Gunung Slamet melalui jalur Kaliwadas. Mereka adalah: Turniyadi (Dodo), Masrukhi, Dewi Priam Sari, Bregas Agung, Gentur, Ismarilianti (Iis), dan Ahmad Fauzan. Pendakian dimulai keesokan harinya.

‎‎Tanggal 6 Februari, mereka mencapai batas vegetasi atau "point of no return". Rencana ke puncak tertunda karena badai dan kabut tebal. Mereka terpaksa bermalam di ketinggian 3.400 mdpl. Esok harinya mereka mencoba naik, namun badai kembali datang, dan Mas Ruki mengalami hipotermia pertama kali. Ia sempat jatuh terguling, tapi berhasil diselamatkan.

‎‎Mereka berhasil mencapai puncak dan mendirikan tenda, tapi badai terus berlanjut. Dalam perjalanan turun, Masrukhi kembali kritis dan akhirnya meninggal di pangkuan Dodo. Kondisi makin buruk: makanan habis, suhu ekstrem, dan alat masak dibawa turun oleh Dewi yang mencari bantuan.

‎‎Satu per satu pendaki menyerah pada kondisi ekstrem. Fauzan, Iis, Bergas, dan akhirnya Dodo menyusul Masrukhi. Hanya Dewi dan Gentur yang selamat. Dewi berhasil turun lebih awal meminta bantuan, sementara Gentur nekat turun hanya bermodal 8 butir permen.

‎‎Seluruh korban ditemukan dalam kondisi mengenaskan, sebagian besar akibat hipotermia. Tragedi ini dikenang sebagai salah satu insiden pendakian paling tragis di Indonesia. Nama kelima korban diabadikan dalam plakat segitiga oleh Mapagama di Gunung Slamet sebagai tanda penghormatan.

RINCIAN:

Gunung selalu menjadi spot menarik bagi banyak orang. Walaupun kondisi yang terjal, cuaca yang tak menentu dan medan yang berat, nyatanya pendakian masih menjadi hobi yang diminati.
Hal ini pula yang dilakukan oleh 7 orang mahasiswa Universitas Gadjah Mada atas nama Turniadi (Dodo), Masrukhi, Dewi Priamsari, Bagus Gentur Sukanegara, Ismarilianti (Iis), Bregas Agung, dan Ahmad Fauzan.

Mereka berangkat Minggu tanggal 4 Pebruari 2001 pagi dari Gelanggang Mahasiswa UGM ke Stasiun Lempuyangan menuju Bumiayu. Diselingi makan siang, mereka melanjutkan perjalanan dan tiba di Pengasinan sekitar pukul 15.30.
Dari Pengasinan, mereka menuju desa awal pendakian Desa Kaliwadas yang berjarak 7 km ditempuh dengan jalan kaki dan bermalam di Desa Kaliwadas tersebut

Senin, 5 Februari, sekitar pukul 09.30, kelompok ini mulai melakukan pendakian menuju Puncak Slamet. Kurang lebih pukul 15.30 WIB, mereka sampai di pertemuan jalur Kaliwadas – Baturaden dan meneruskan perjalanan sampai pukul 17.00 kemudian membangun camp dan istirahat semalaman.

Selasa 6 Februari siang, sekitar pukul 13.00 WIB, mereka pun sudah berada di garis vegetasi puncak gunung tersebut. Para pendaki yang mengenal puncak Slamet pasti tahu, garis vegetasi itu tidak hanya merupakan batas untuk bisa tumbuhnya tanaman, tapi juga sering menjadi semacam "point of no return".
Begitu pendaki melewati garis tersebut menuju puncak, bahaya badai dan kabut tebal sering datang dengan tiba-tiba dan jika ini terjadi, maka sulit untuk kembali ke posisi awal dan lebih baik meneruskan perjalanan.
Dan benar saja, meski sudah mencapai batas vegetasi, mereka terhambat untuk meneruskan perjalanan ke puncak. 
Mereka berencana, jika memungkinkan Selasa langsung naik ke puncak dan sorenya langsung turun ke Bambangan.
Namun badai tiba dan puncak Slamet diselimuti kabut tebal. 
Mereka lantas memutuskan untuk membuat base camp, mendirikan 3 tenda di dekat garis vegetasi gunung berketinggian 3.432 mdpl itu. Mereka beristirahat untuk menunggu esok hari.
Sebenarnya pada Rabu pagi pukul 05.00 WIB cuaca sekitar Puncak Slamet cukup cerah. Namun mereka tak bisa mendaki, karena belum mengepak perlengkapan. Baru sekitar pukul 06.00 WIB barang-barang selesai dipacking.
Dengan menyisakan satu tenda yang dibiarkan tetap berdiri, mereka menuju puncak. Namun saat itu pula, kabut tebal dan badai angin kencang kembali melanda puncak Slamet secara mendadak. 
Mereka kembali masuk tenda tadi karena mereka tak mau mengambil risiko terserang hipothermia.
Hipotermia dapat kapan saja menyerang mereka karena suhu di garis vegetasi saja saat itu di bawah nol derajat celcius.

Sekitar pukul 10.00 WIB, badai mulai reda. Meski puncak masih diselimuti kabut, namun angin tidak lagi menderu kencang.
Sebenarnya ada rasa keraguan untuk naik ke puncak melihat perubahan cuaca yang tak menentu, tetapi Masrukhi dan Dodo sbg pendamping menyatakan berani untuk mengantar sampai ke puncak.. 
Akhirnya perjalanan naik ke puncak diteruskan saat itu juga.
Tapi, di tengah pendakian, badai mendera kembali. Mereka masuk dalam situasi point of no return. Saat itu, mereka berada di tengah perjalanan antara batas vegetasi dan puncak. Mereka sempat berencana untuk kembali turun ke base camp.
Tapi, baik kembali ke base camp maupun meneruskan ke puncak, sama sulitnya. Akhirnya, mereka memutuskan untuk meneruskan pendakian hingga puncak.
Saat itu, jarak pandang hanya sekitar setengah meter, karena tebalnya kabut. 
Masrukhi, mahasiswa Fisipol UGM, tiba-tiba saja berteriak minta tolong. Dia diduga terserang hipothermia (penurunan temperatur tubuh secara mendadak) dan terguling ke lereng.
Mereka semua mendengar suara itu, namun, karena tebalnya kabut, mereka tidak bisa melakukan apapun. 
Setelah mereka berenam sampai puncak, Dodo, Fauzan, dan Gentur, turun menjemput Masrukhi. Beruntung Masrukhi ditemukan. Mereka memapah Masrukhi hingga ke puncak Tugu Surono.
Tugu itu adalah tanda puncak tertinggi Gunung Slamet. Di puncak yang juga bibir kawah Slamet itu mereka mendirikan tenda dan menginap semalam. 
Saat itu mereka tidak mungkin kembali, karena badai makin menjadi-jadi.
Bahkan hingga keesokan harinya, Kamis (8/2), badai tak juga reda. 
Mengingat kondisi fisik mereka makin lemah, padahal masih membutuhkan tenaga untuk turun, akhirnya mereka memaksakan diri untuk turun.
Saat itulah Masrukhi yg kondisi fisiknya masih lemah kembali terserang hipothermia. 
Dia sempat terguling lagi, namun beruntung, Bergas yang ada di depan Masrukhi sempat menghadang tubuhnya. Kalau tidak, tubuh Masrukhi saat itu juga sudah masuk jurang.
Kelima pendaki lain segera mendekati tubuh Masrukhi dan Bergas yang terjatuh. Mereka memutuskan menunda perjalanan, dan kembali mendirikan tenda di sekitar lokasi jatuhnya Masrukhi. 
Padahal, saat itu mereka masih berada di kawasan non-vegetasi (tanpa tumbuhan) di Puncak Slamet.
Tiba-tiba, beberapa meter di bawah mereka, terdengar sayup-sayup suara beberapa orang yang berteriak-teriak. 
Namun mereka tak mendengar secara jelas apa yang orang-orang itu ucapkan. Mereka hanya bisa berkomunikasi dengan peluit agar tidak saling kehilangan kontak.
Mereka lantas meminta Dewi untuk mendekati asal teriakan itu. Dipandu suara peluit dari pendaki lain, akhirnya Dewi dapat mendekati mereka. 
Suara itu ternyata berasal pendaki dari Jakarta, tapi tidak berani memberi pertolongan, karena kabut terlalu tebal.
Para pendaki asal Jakarta itu, memutuskan untuk turun ke Bambangan, desa terdekat di kaki Gunung Slamet, untuk minta pertolongan dari desa tersebut. 
Dewi diputuskan ikut bersama pendaki dari Jakarta tadi untuk turun ke bawah.
Saat itu kondisi Masrukhi masih hidup, hanya saja kondisinya terlihat payah. Dalam perjalanan turun bersama pendaki Jakarta itu, Dewi sempat bertemu Tim SAR dan sampai di Bangbangan Kamis malam, sekitar pukul 21.30.
Segera setelah itu, Dewi yang mahasiswi D-3 Fakultas Geografi UGM itu melapor ke Kapolsek.
Sementara itu siang hari menjelang sore, di atas sana cerita getir terjadi. Maut kemudian merenggut lima nyawa pendaki Mapagama itu satu demi satu... Korban pertama adalah Masrukhi.
Masrukhi menghembuskan nafas terakhirnya di lokasi basecamp tepatnya di pangkuan Dodo. Mereka memutuskan untuk turun meninggalkan jenazah Masrukhi, dengan pertimbangan akan dievakuasi kemudian setelah mendapatkan bantuan.
Namun, kondisi fisik Bergas dan Fauzan sudah sangat kelelahan. Baru turun beberapa meter, Fauzan terjatuh ke selokan dan terguling beberapa meter. Bergas juga tampak kepayahan. 
Akhirnya, diputuskan untuk mendirikan tenda dan menginap lagi semalam.
Di tempat ini, Fauzan terserang hipothermia. Sementara, persediaan logistik juga semakin terbatas. Mereka juga tak bisa memasak karena kompor gas lipat mereka terbawa oleh Dewi. Mereka hanya makan seadanya, mie instant kering, permen dan sambal pecel.
Keesokan harinya,Jumat (9/2), diputuskan hanya Dodo yang turun ke bawah, untuk minta pertolongan sementara yg lain bertahan di atas. 
Namun, hingga Sabtu tanggal 10, pertolongan yg dinanti tidak kunjung datang.
Akhirnya, diputuskan Gentur untuk turun, sedangkan Iis tetap menunggui Fauzan dan Bergas.
Dalam perjalanan turun, Gentur yang hanya berbekal delapan permen mengalami kesulitan yang luar biasa.
Posisi mereka turun sejak dari puncak memang sudah bergeser, tidak lagi di jalur pendakian. Untungnya, ia menemukan alur sungai. Dgn mengikuti alur sungai itulah, Gentur akhirnya sampai pada jalan aspal di Desa Serang, diantara Baturaden Banyumas & Desa Bambangan Kab Purbalingga.
Sampai di tempat itu, Ahad (11/2) pagi, Gentur langsung minta diantar tukang ojek ke Desa Bambangan. Begitu sampai, Gentur baru tahu Dodo tidak pernah sampai di desa terakhir rute pendakian Gunung Slamet itu.
Dari situlah, kemudian Tim SAR dari berbagai kelompok pecinta alam sejumlah universitas, dibantu warga Bambangan dan Basarnas, memulai upaya pencarian.
Senin, 12 Februari.. Fauzan, mahasiswa D-3 Geografi UGM yang pertama kali diketemukan oleh Tim SAR dalam kondisi sudah meninggal dunia di dalam tenda, 20 meter di bawah garis vegetasi. Sementara Iis dan Bergas sudah tidak lagi berada di tenda itu.
Iis, mahasiswi Fakultas Kehutanan UGM, baru ditemukan pada Rabu (14/2). Waktu ditemukan, Iis berlindung di bawah cerukan air terjun di ketinggian 2750 meter, hanya mengenakan raincoat yang basah dengan kerudung (jilbab) dilepas.
Kondisi fisiknya sudah teramat payah, gigi depan patah, luka di tulang kering kaki kanan dan leher, namun ia masih hidup dan sadar.
Karena sudah sore, tiga anggota Tim SRU (Search and Rescue Unit) yang menemukan Iis memutuskan untuk mendirikan tenda dan bermalam.
Setelah mengganti baju Iis yang basah, Tim SRU langsung membuat api unggun dan melakukan penyelamatan skin to skin (kulit ke kulit) untuk mengatasi hypotermia yang diderita Iis. Dari sore sampai malam hanya itulah yang bisa dilakukan.
Eko Cahyo (anggota SRU 3 dari Unit P3K UGM) memutuskan memasukkan Iis ke dalam sleeping bag. Sekitar pukul 22.00, Iis mulai membaik dan bisa bicara serta menjawab beberapa pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dengan mudah.
Kamis (15/2) pukul 01.00, Eko Cahyo mendapat giliran untuk tidur, dan Samsi pun menggantikan posisi Eko untuk menjaga Iis dengan membikin api unggun dan mengajak mengobrol serta menempelkan penghangat ke tubuh Iis.
Pukul 03.00 pagi Samsi berbaring di sebelah Iis dan karena kelelahan, Samsi pun tertidur. Ketika terbangun sekitar pukul 04.30, keduanya mendapati kondisi Iis sudah kritis tanpa respons, sehingga dilakukan pernapasan buatan sampai sekitar 20 menit.
Sampai pukul 05.20 terus diupayakan penyelamatan namun gagal. 
Dan pagi hari sekitar pukul 07.00 mereka mengirim berita bahwa Iis sudah meninggal dunia.
Pada hari yang sama saat Iis diketemukan (Rabu,14/2), Tim SAR yang dipecah-pecah menjadi beberapa unit kecil, juga menemukan Dodo yang semula turun sendirian untuk meminta bantuan. 
Mahasiswa Fak Hukum UGM ini juga diketemukan sudah meninggal.
Sementara Bergas, mahasiswa Fakultas Peternakan UGM, ditemukan Sabtu (17/2), juga sudah meninggal dunia, jasadnya ditemukan di dekat batas vegetasi.
Dan korban terakhir yang ditemukan adalah Masrukhi.
Jenazahnya baru ditemukan Senin(19/2) pada lokasi jauh dari tempat semula ditinggalkan teman temannya, sekitar 200 meter diatas garis vegetasi, pindahnya posisi jasad Masrukhi ini juga sempat menjadi pertanyaan kala itu.
Dan dari tujuh pendaki Mapagama itu, hanya dua pendaki yaitu Dewi dan Gentur yang selamat. Nama kelima korban yang meninggal dunia kemudian diabadikan melalui sebuah plakat berbentuk segitiga di Gunung Slamet yang dibuat oleh keluarga besar Mapagama.

Info disini



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.